SEKILAS INFO : Kunjungi blog saya yang baru di myeatandtravelstory.wordpress.com yaaa. Di sana, kulinernya diupdate terus...
Nah, kata temen saya Batagor Burangrang ini enak, jadilah saya datang mencoba. Batagor Burangrang sebenernya punya booth-booth di banyak tempat, tapi pusatnya ya sesuai namanya, di Jalan Burangrang ini. Lokasinya di seberang sekolah BPI, tepat di sebelah Lotteria. Waktu saya dateng, sepi. Mungkin karena hari itu baru saja hujan. Atau mungkin juga dia kalah pamor dibandingkan Batagor Kingsley di Jalan Veteran. Tapi gapapa, kita udah dateng, pantang mundur untuk tidak mencoba.
Menurut saya harganya mahal. Seporsi batagor isi 3 buah saja harganya 30 ribu. Berarti sebutir batagor harganya 10 ribu dong. Mahal ga sih? Dan kalo mau batagornya berkuah (ditulisnya ekstra kuah, berarti mestinya bumbu kacangnya tetep dapet) mesti nambah lagi 2500. Gimana kalo pengennya batagor kuah doang tanpa bumbu kacang? Apakah ga perlu nambah 2500 rupiah? Ga ngerti deh. Lagian, batagor yang sering saya makan palingan yang kelasnya 10 ribu dapet tiga atau empat, walau sebutirnya ga segede ini juga. Saya sukanya batagor kelas kampung, ga terlalu suka batagor yang ukurannya gede dan ikan banget. Aneh ya? Semoga ngga.
Ketika pesanan saya datang, tiga macam batagor sudah ada di mangkok. Bumbu kacang diletakkan di mangkok terpisah. Biar ga foto berkali-kali, saya foto aja batagornya yang udah dikasih bumbu kacang dan kecap, jadi kayak di atas itu tuh. Batagornya memang enak sih. Batagor bulat sama siomay ga jauh beda. Sementara batagor tahu, ya ada tahunya, tahu putih. Overall, menurut saya Batagor Burangrang ini enak. Walau saya masih tetep ngerasa mahal, hehehe...
Batagor Burangrang
Jalan Burangrang No. 7 Bandung
Showing posts with label mahal. Show all posts
Showing posts with label mahal. Show all posts
Thursday, April 16, 2015
Sunday, April 12, 2015
Nostalgia di Braga Permai (Bandung)
SEKILAS INFO : Kunjungi blog saya yang baru di myeatandtravelstory.wordpress.com yaaa. Di sana, kulinernya diupdate terus...
Braga Permai adalah salah satu restoran tertua yang ada di Bandung. Nama asli dari jaman Belandanya adalah Maison Bogarijen dan merupakan restoran yang paling elit seantero kota, menyajikan aneka menu makanan dari seluruh penjuru dunia. Ya, hingga kini Braga Permai masih memproduksi kue-kue, roti, es krim, dan juga makanan berat yang menjadi hidangan utama mereka. Bahkan, bisa jadi Maison Bogarijen ini semakin menegaskan julukan Bandung waktu itu, Parijs van Java, karena menu-menu makanannya ditulis dengan menggunakan istilah berbahasa Perancis.
Adik saya yang cewek, memesan Ravioli Beef. Ini sebenernya menu nostalgia waktu pertama kali dateng ke Braga Permai. Waktu itu adik saya ini juga memesan Ravioli. Ravioli ini intinya pasta. Bentuk pastanya kayak cireng pipih, lalu dikasih saus pasta yang berwarna putih, alias carbonara. Toppingnya ada jamur dan kacang polong. Walau tergolong hidangan yang enak, adik saya merasa kayaknya masih lebih enak Ravioli yang dulu pernah dibeli. Tapi, bisa aja dia salah, wong udah dua taun lalu kan?
Saya sendiri, mengikuti saran temen di grup Facebook KKB, memesan Beef Fondue. Saya sama sekali ga punya hint ini makanan yang penyajiannya kayak apa. Ternyata, Beef Fondue adalah jenis masakan di mana kita sendiri yang mesti memasak dagingnya. Kita akan diberi panci khusus yang diisi dengan banyak minyak goren, sehingga potongan-potongan daging sapi yang sudah disediakan dapat kita deep-fried alias digoreng terendam dalam minyak goreng. Disediakan penusuk logam untuk keperluan itu. Setelah itu, kita tinggal menunggu beberapa menit hingga matang, so kita bisa nentuin sendiri tingkat kematangannya. Setelah digoreng, dagingnya enak, lembut. Bisa dioleskan ke saus kacang yang udah disediakan. Lalu makannya ditemani sekerat roti lembut.
Braga Permai adalah salah satu restoran tertua yang ada di Bandung. Nama asli dari jaman Belandanya adalah Maison Bogarijen dan merupakan restoran yang paling elit seantero kota, menyajikan aneka menu makanan dari seluruh penjuru dunia. Ya, hingga kini Braga Permai masih memproduksi kue-kue, roti, es krim, dan juga makanan berat yang menjadi hidangan utama mereka. Bahkan, bisa jadi Maison Bogarijen ini semakin menegaskan julukan Bandung waktu itu, Parijs van Java, karena menu-menu makanannya ditulis dengan menggunakan istilah berbahasa Perancis.
Kali ini, kedua kalinya saya berkunjung ke Braga Permai, khusus demi membuat liputan ini. Pertama kalinya ke sini kayaknya sekitar dua tahun yang lalu. Dulu saya sempat mengira, karena Braga Permai ini lokasinya di Jalan Braga, dan sudah terkenal dari jaman Belanda, maka harga makanannya akan ampun-ampunan. Tapi setelah dikasih tau temen, ternyata harganya masih cukup reasonable. Bahkan, konon katanya, terkadang porsinya gede banget. Mungkin porsi bule.
Jadi, hari Minggu malam itu, saya dateng lengkap sekeluarga. Kami diberi menu yang cukup tebal. Saya kagum karena Braga Permai ini menyediakan beragam menu, mulai dari menu masakan Italia, menu masakan Cina, menu Western, hingga menu lokal. Berlima, kami memesan menu yang berbeda-beda. Perfect, berarti saya bisa membuat review-nya semakin banyak.
Pelayan-pelayan di sini menggunakan kostum ala siswa SMK yang lagi kerja praktek, baju putih dan bawahan hitam. Laki-laki menggunakan celana panjang sementara perempuannya memakai rok. Mereka pun masih menggunakan celemek-celemek merah kecil yang diikta di pinggang. Kostum mereka ini semakin menegaskan suasana jadoel yang memang sudah dimiliki oleh bangunan restoran Braga Permai. Dulu bahkan ada piano besar yang ada di ruangan lantai bawah. Sekarang sudah tidak ada, entah dipindahkan ke atas atau gimana, saya ga tau. Yang pasti, sepertinya tujuannya sepertinya agar di lantai bawah dapat menampung lebih banyak orang. Soalnya pada malam hari, terutama di akhir pekan, Braga Permai ramai sekali dikunjungi orang.
Sambil menunggu makanannya dateng, kita bisa melihat-lihat kue manis dan roti-roti yang terpampang di display kaca meeka. Beberapa kue pernah saya coba dulu sewaktu berjalan-jalan ke sini bersama Komunitas Kuliner Bandung, disingkat KKB. Kue-kue dan penganan manis mereka merupakan kue khas Belanda, jadi kebanyakan bernama Belanda pula. Pas lagi liat-liat, eh makanan mulai dateng satu-persatu.
.jpg&container=blogger&gadget=a&rewriteMime=image%2F*)
Adik saya yang cowok memesan Bebek Saus Jamur. Penampakanya seperti di atas ini. Disajikan dengan piring aluminium. Entah mengapa harus menggunakan piring aluminium dan bukan piring kaca? Potongan-potongan bebek dihiasi jamur-jamur ukuran kancing. Rasanya? Hmm, menurut saya biasa aja.
Saya sendiri, mengikuti saran temen di grup Facebook KKB, memesan Beef Fondue. Saya sama sekali ga punya hint ini makanan yang penyajiannya kayak apa. Ternyata, Beef Fondue adalah jenis masakan di mana kita sendiri yang mesti memasak dagingnya. Kita akan diberi panci khusus yang diisi dengan banyak minyak goren, sehingga potongan-potongan daging sapi yang sudah disediakan dapat kita deep-fried alias digoreng terendam dalam minyak goreng. Disediakan penusuk logam untuk keperluan itu. Setelah itu, kita tinggal menunggu beberapa menit hingga matang, so kita bisa nentuin sendiri tingkat kematangannya. Setelah digoreng, dagingnya enak, lembut. Bisa dioleskan ke saus kacang yang udah disediakan. Lalu makannya ditemani sekerat roti lembut.
Belum selesai sampai di situ, karena masih ada dalam paket Beef Fondue, yaitu salad yang bagian utamanya terdiri dari ubi ungu atau bit. Eh, ubi ungu ama bit itu sama atau ngga ya?
Orang tua saya, memesan menu yang aman-aman aja buat perut mereka. Papah saya memesan Nasi Goreng Salmon sementara ibu saya memesan Nasi Goreng Kampung. Kata mereka sih, rasanya biasa-biasa aja, ga istimewa.
Friday, April 3, 2015
Beef and Egg Termantap Sedunia di Tizi! (Bandung)
SEKILAS INFO : Kunjungi blog saya yang baru di myeatandtravelstory.wordpress.com yaaa. Di sana, kulinernya diupdate terus...
Udah pernah ke Tizi? Kayaknya sih mereka udah lama berjualan di Bandung, tapi baru setahunan ini saya ke sana. Kali ini yang kedua kali. Jarang ke sini juga karena harganya lumayan mihil, hehehe...
Lokasinya agak tersembunyi dari Jalan Dago. Tizi terletak di daerah di seberang Pasar Dago. Jalan masuknya sebelum komplek Pusair, agak kecil apalagi kalo banyak gerobak pedagang yang berjualan. Jalannya jadi makin tersembunyi dan ga heran kalo terlewatkan sama yang nyari.
Saya dateng siang-siang, jam setengah satuan. Parkiran yang luas terasa sangat lengang karena hanya ada beberapa mobil yang parkir. Ternyata pas jam makan siang, pengunjungnya masih sedikit. Atau barangkali, mereka pada terjebak macet sehingga telat nyampe tepat jam makan siang. Dan karena Tizi ini cukup besar, rasanya jadi lengang sekali. Situasi ini akan sangat kontras sekali ketika malam menjelang. Parkiran akan sangat penuh hingga sulit untuk parkir.
Ruangan Tizi ada dua macem, ada yang di dalem ruangan, di dalem rumah, ada juga yang jauh lebih luas, di luar rumah. Tempat yang terakhir ini, walau tetep ada atapnya, tapi agak terbuka karena mengelilingi sebuah taman rumput.
Ga lama setelah saya ama adik saya duduk, pelayan dateng membawa menu. Saya udah tau mau beli apa. Saya mau beli Beef N' Egg lagi. Soalnya enaaaak banget. Saya suka. Sementara adik saya, saya suruh beli Sirloin Steak aja. Jadi rencananya kita bakal makan seteng-seteng gitu. Minumnya, saya pesen lemon tea, adik saya beli ice milk chocolate.
Yang pertama dateng, seperti biasa, minuman. Ice milk chocolate-nya lumayan enak. Bukan dibikin dari susu coklat melainkan campuran susu dan coklat. Lemon tea saya sih biasa aja. Kurang asem dan bahkan kurang manis juga. Tapi ya udah lah, saya cuek aja. Ternyata, selain minuman yang dipesen, kita dikasih air putih juga. Kayak di Suis Butcher. Yah, lumayan juga sih, soalnya kalo ngandelin minuman yang dipesen ga akan cukup. Saya minumnya lumayan banyak.
Yeah, setelah menunggu sekitar 15 menitan, makanan dateng. Ga terlalu lama lah, masih acceptable. Melengkapi steak dan beef n' egg, kita dikasih juga saus tomat. Tapi bukan saus tomat botolan biasa, melainkan saus tomat racikan sendiri. Saya ga suka saus tomat jadinya ga dimakan deh, cuma dicicip aja dikit. Saus tomatnya encer dan ada sensasi panggangnya. Kalo butuh saus sambal, merica, ama garam, semuanya udah ada di meja.
Oke, ini dia review-nya. Daging di beef n' egg ada dua macem, yang satu kayak daging burger, yang satu lagi ga ngerti deh namanya daging apa, ada lemak-lemaknya gitu. Plus di tengah-tengah ada telur ceploknya, tambah nikmat. Apalagi telur merupakan penyedap alami. Rotinya tebel, dipanggang sebentar dengan mentega. Tapi walaupun tebel, rotinya mudah sekali dipotong dengan pisau makan dan ga kempes.
Di antara roti dan daging yang ada di atasnya, ternyata masih tersembunyi seiris tomat yang sedikit dipanggang sehingga jadi sedikit lunak. Pokoknya, Semua kombinasi ini membuat beef n' egg-nya enak banget deh. Highly recommended! Tapi karena ada bagian daging yang berlemak ini, buat kamu yang ga suka sama daging berlemak mungkin akan jadi kurang suka sama beef n' egg. Bisa minta dagingnya jangan yang berlemak ga ya? Coba aja deh kamu tanyain, hehehe..
Sirloin steak-nya? Tadi saya pesen steak-nya medium well dan pake saus mushroom, karena menurut pelayannya, saus standar steak adalah saus barbeque. Ternyata, saus barbeque-nya ga diganti saus mushroom dan tetep dikasih. Saus mushroom-nya dikasih pake wadah terpisah. Saus barbeque-nya saya suka, karena rasanya ga kayak saus barbeque botolan yang asem dan saya ga suka itu. Sepertinya saus barbeque-nya juga racikan sendiri, rasanya ga terlalu asem. Dagingnya sendiri, sayangnya ga sesuai pesanan karena kematengan. Tapi gapapa, soalnya lemaknya dikasih cukup banyak dan rasanya delicioso abiissss, kayak lemak di sate kambing.
Puree, yaitu mashed potato-nya Tizi, yang emang agak berbeda ama mashed potato, kayak kentang yang digiling pake mesin. Kentangnya ga hancur halus melainkan masih ada bagian-bagian kentangnya yang tidak hancur. Rasanya tapi agak hambar. So overall si steak rasanya enak, tapi kekurangan-kekurangan tadi menurunkan nilainya. Saya masih jauh lebih suka beef n' egg-nya deh.
Beef N' Egg IDR 65K
Sirloin Steak IDR 87K
Mushroom Sauce IDR 18K
Ice Milk Chocolate IDR 29K
Iced Lemon Tea IDR 17K
belum termasuk pajak
The Menu
Tizi
Jalan Kidang Pananjung No. 3 Bandung
Udah pernah ke Tizi? Kayaknya sih mereka udah lama berjualan di Bandung, tapi baru setahunan ini saya ke sana. Kali ini yang kedua kali. Jarang ke sini juga karena harganya lumayan mihil, hehehe...
Lokasinya agak tersembunyi dari Jalan Dago. Tizi terletak di daerah di seberang Pasar Dago. Jalan masuknya sebelum komplek Pusair, agak kecil apalagi kalo banyak gerobak pedagang yang berjualan. Jalannya jadi makin tersembunyi dan ga heran kalo terlewatkan sama yang nyari.
Saya dateng siang-siang, jam setengah satuan. Parkiran yang luas terasa sangat lengang karena hanya ada beberapa mobil yang parkir. Ternyata pas jam makan siang, pengunjungnya masih sedikit. Atau barangkali, mereka pada terjebak macet sehingga telat nyampe tepat jam makan siang. Dan karena Tizi ini cukup besar, rasanya jadi lengang sekali. Situasi ini akan sangat kontras sekali ketika malam menjelang. Parkiran akan sangat penuh hingga sulit untuk parkir.
Ga lama setelah saya ama adik saya duduk, pelayan dateng membawa menu. Saya udah tau mau beli apa. Saya mau beli Beef N' Egg lagi. Soalnya enaaaak banget. Saya suka. Sementara adik saya, saya suruh beli Sirloin Steak aja. Jadi rencananya kita bakal makan seteng-seteng gitu. Minumnya, saya pesen lemon tea, adik saya beli ice milk chocolate.
Yang pertama dateng, seperti biasa, minuman. Ice milk chocolate-nya lumayan enak. Bukan dibikin dari susu coklat melainkan campuran susu dan coklat. Lemon tea saya sih biasa aja. Kurang asem dan bahkan kurang manis juga. Tapi ya udah lah, saya cuek aja. Ternyata, selain minuman yang dipesen, kita dikasih air putih juga. Kayak di Suis Butcher. Yah, lumayan juga sih, soalnya kalo ngandelin minuman yang dipesen ga akan cukup. Saya minumnya lumayan banyak.
Yeah, setelah menunggu sekitar 15 menitan, makanan dateng. Ga terlalu lama lah, masih acceptable. Melengkapi steak dan beef n' egg, kita dikasih juga saus tomat. Tapi bukan saus tomat botolan biasa, melainkan saus tomat racikan sendiri. Saya ga suka saus tomat jadinya ga dimakan deh, cuma dicicip aja dikit. Saus tomatnya encer dan ada sensasi panggangnya. Kalo butuh saus sambal, merica, ama garam, semuanya udah ada di meja.
Oke, ini dia review-nya. Daging di beef n' egg ada dua macem, yang satu kayak daging burger, yang satu lagi ga ngerti deh namanya daging apa, ada lemak-lemaknya gitu. Plus di tengah-tengah ada telur ceploknya, tambah nikmat. Apalagi telur merupakan penyedap alami. Rotinya tebel, dipanggang sebentar dengan mentega. Tapi walaupun tebel, rotinya mudah sekali dipotong dengan pisau makan dan ga kempes.
Di antara roti dan daging yang ada di atasnya, ternyata masih tersembunyi seiris tomat yang sedikit dipanggang sehingga jadi sedikit lunak. Pokoknya, Semua kombinasi ini membuat beef n' egg-nya enak banget deh. Highly recommended! Tapi karena ada bagian daging yang berlemak ini, buat kamu yang ga suka sama daging berlemak mungkin akan jadi kurang suka sama beef n' egg. Bisa minta dagingnya jangan yang berlemak ga ya? Coba aja deh kamu tanyain, hehehe..
Sirloin steak-nya? Tadi saya pesen steak-nya medium well dan pake saus mushroom, karena menurut pelayannya, saus standar steak adalah saus barbeque. Ternyata, saus barbeque-nya ga diganti saus mushroom dan tetep dikasih. Saus mushroom-nya dikasih pake wadah terpisah. Saus barbeque-nya saya suka, karena rasanya ga kayak saus barbeque botolan yang asem dan saya ga suka itu. Sepertinya saus barbeque-nya juga racikan sendiri, rasanya ga terlalu asem. Dagingnya sendiri, sayangnya ga sesuai pesanan karena kematengan. Tapi gapapa, soalnya lemaknya dikasih cukup banyak dan rasanya delicioso abiissss, kayak lemak di sate kambing.
Puree, yaitu mashed potato-nya Tizi, yang emang agak berbeda ama mashed potato, kayak kentang yang digiling pake mesin. Kentangnya ga hancur halus melainkan masih ada bagian-bagian kentangnya yang tidak hancur. Rasanya tapi agak hambar. So overall si steak rasanya enak, tapi kekurangan-kekurangan tadi menurunkan nilainya. Saya masih jauh lebih suka beef n' egg-nya deh.
Beef N' Egg IDR 65K
Sirloin Steak IDR 87K
Mushroom Sauce IDR 18K
Ice Milk Chocolate IDR 29K
Iced Lemon Tea IDR 17K
belum termasuk pajak
The Menu
Tizi
Jalan Kidang Pananjung No. 3 Bandung
Sunday, March 22, 2015
Tahu Lembang yang Gurih Nan Maknyus (Lembang)
SEKILAS INFO : Kunjungi blog saya yang baru di myeatandtravelstory.wordpress.com yaaa. Di sana, kulinernya diupdate terus...
Ini salah satu makanan ringan yang sering saya dan keluarga saya beli setiap ke Lembang. Rasanya, mesti diakui ya, memang gurih. Konon rahasianya karena adonan tahunya dicampur dengan susu. Lembang memang terkenal juga dengan susu. Dan tahu Lembang ini berusaha mengombinasikan kuliner khas Lembang ini dengan tahu. Hasilnya? Jauh dari mengecewakan!
Tahu Lembang sendiri, walau lebih terkenal karena tahunya, memiliki tempat makan yang cukup luas dan pusat penjualan oleh-oleh. Saya ama keluarga belum pernah sih makan di sini, soalnya seringnya kita beli tahu doang. Kerennya, tahunya dijual ala drive-thru McD, dengan desain mirip SPBU. Enak kan, kalo kita cuma mau beli tahu, kita bisa beli tanpa mesti turun dari mobil. Seporsi tahu Lembang kayak di kantong kertas di atas berisi sepuluh tahu, harganya 15 ribu rupiah. Cukup mahal sih ya, soalnya ukuran tahunya agak kecil.
Kayak gini nih tahunya. Mirip tahu Sumedang kan ya? Tapi ga kayak tahu Sumedang yang kulitnya agak liat, tahu Lembang kulitnya lebih lembut. Dan ada isinya, ga kopong kayak tahu Sumedang. Dan setelah kamu beli, sebaiknya langsung dimakan anget-anget. Hati-hati juga, dijamin panas. Jangan lupa ditiup sebelum dimakan. Rasanya? Asin guriiiih. Anget pula, pas banget dengan udara Lembang yang dingin semriwing. Kamu ga bakalan nyesel deh udah beli. Dan pas udah abis, kamu pasti masih bakalan nyesel lagi. Kenapa? Karena nyesel kenapa tadi ga beli lebih banyak, hehehe...
Tahu Lembang (isi 10) IDR 15K
Tahu Lembang
Ini salah satu makanan ringan yang sering saya dan keluarga saya beli setiap ke Lembang. Rasanya, mesti diakui ya, memang gurih. Konon rahasianya karena adonan tahunya dicampur dengan susu. Lembang memang terkenal juga dengan susu. Dan tahu Lembang ini berusaha mengombinasikan kuliner khas Lembang ini dengan tahu. Hasilnya? Jauh dari mengecewakan!
Tahu Lembang sendiri, walau lebih terkenal karena tahunya, memiliki tempat makan yang cukup luas dan pusat penjualan oleh-oleh. Saya ama keluarga belum pernah sih makan di sini, soalnya seringnya kita beli tahu doang. Kerennya, tahunya dijual ala drive-thru McD, dengan desain mirip SPBU. Enak kan, kalo kita cuma mau beli tahu, kita bisa beli tanpa mesti turun dari mobil. Seporsi tahu Lembang kayak di kantong kertas di atas berisi sepuluh tahu, harganya 15 ribu rupiah. Cukup mahal sih ya, soalnya ukuran tahunya agak kecil.
Kayak gini nih tahunya. Mirip tahu Sumedang kan ya? Tapi ga kayak tahu Sumedang yang kulitnya agak liat, tahu Lembang kulitnya lebih lembut. Dan ada isinya, ga kopong kayak tahu Sumedang. Dan setelah kamu beli, sebaiknya langsung dimakan anget-anget. Hati-hati juga, dijamin panas. Jangan lupa ditiup sebelum dimakan. Rasanya? Asin guriiiih. Anget pula, pas banget dengan udara Lembang yang dingin semriwing. Kamu ga bakalan nyesel deh udah beli. Dan pas udah abis, kamu pasti masih bakalan nyesel lagi. Kenapa? Karena nyesel kenapa tadi ga beli lebih banyak, hehehe...
Tahu Lembang (isi 10) IDR 15K
Tahu Lembang
Tuesday, March 3, 2015
Makan Soto Padang H. St. Mangkuto (Jakarta)
SEKILAS INFO : Kunjungi blog saya yang baru di myeatandtravelstory.wordpress.com yaaa. Di sana, kulinernya diupdate terus...
Konon Soto Padang H. St. Mangkuto ini sudah sejak 1966. Sebelum ini, saya pernah makan di pusatnya di Jalan Pintu Air deket Masjid Istiqlal sono. Tapi waktu itu saya kurang puas, soalnya pas dateng udah malem dan sotonya terasa kurang hangat dan kurang fresh. Kali ini saya coba dateng jam 3 sore ke cabangnya di Jalan K.H. Ahmad Dahlan, Jakarta Selatan. Restorannya cukup besar, kira-kira ada 18 buah meja di mana ada dua macam meja yang masing-masing dapat menampung 4 atau 6 orang. Ruangannya pun enak, ber-AC.
Soto Padang, walau ga asing buat orang Minang sendiri, rupanya masih asing di lidah orang Indonesia pada umumnya. Saya pernah nanya beberapa temen saya, ternyata banyak juga di antara mereka yang belom pernah makan soto Padang. Mungkin karena jarang ada yang menjual soto Padang. Alhasil, hidangan ini memang masih jauh lebih ga populer dibandingkan sate Padang yang lebih banyak penjualnya.
Nah, ini baru oke, sotonya panas, dan pas banget buat dimakan pake nasi yang terpisah. Dengan mangkok berukuran kecil khas soto Padang, soto ini berisi daging, bihun, dan perkedel kentang. Ga ada salah satu dari tiga bahan ini aja, sebuah hidangan ga bisa disebut soto Padang. Dagingnya biasanya daging dendeng yang renyah dan berbunyi kriuk-kriuk pas dimakan. Jenis soto dengan daging yang renyah seperti ini yang paling saya demenin. Tapi di soto ini, rupanya ada dua jenis daging, yang kenyal (daging biasa, atau dendeng yang kurang garing?) dan yang renyah kayak dendeng kering. Oiya, dan ga boleh lupa, mesti ada kerupuk merahnya.
Karena mangkoknya berukuran kecil, Paman saya bercerita, dia seringkali memesan dua mangkok. Biar puas lah ya. Tapi waktu saya di sini, ada juga orang yang memesan soto tanpa nasi. Rupanya selain memesan soto, dia juga memesan sate Padang. Mantap!
Trik supaya satu mangkok yang kecil itu bisa cukup buat sepiring nasi? Yang pasti, setiap suapan hanya boleh diisi oleh satu atau dua potongan daging. Tapi ada masalah lain, karena mangkoknya kecil, kuahnya jadi dikit juga. Dan ternyata kuahnya cepat menjadi kering. Mungkin karena sebagian terisap oleh bihun. Tapi jangan khawatir, kamu bisa kok pesen lagi kuahnya. Nah, kuah ini cukup membantu supaya satu mangkok soto cukup buat dimakan dengan sepiring nasi.
Nah, selain itu bagi saya, soto Padang belom jadi soto Padang kalo kuahnya belom berwarna merah. Supaya merah diapain? Tentu dengan diberi beberapa sendok sambel. Sambelnya kayak yang di atas itu tuh. Warnanya merah, kayak bumbu masak. Nah, setelah dikasih sambel, kuah sotonya jadi kayak di bawah ini. Hmm, jangan terlalu banyak sambelnya, rupanya lumayan pedes. Untung tadi saya ga masukin terlalu banyak.
Soto Padang IDR 30K
Nasi Putih IDR 6K
Es Teh Tawar IDR 4K
Konon Soto Padang H. St. Mangkuto ini sudah sejak 1966. Sebelum ini, saya pernah makan di pusatnya di Jalan Pintu Air deket Masjid Istiqlal sono. Tapi waktu itu saya kurang puas, soalnya pas dateng udah malem dan sotonya terasa kurang hangat dan kurang fresh. Kali ini saya coba dateng jam 3 sore ke cabangnya di Jalan K.H. Ahmad Dahlan, Jakarta Selatan. Restorannya cukup besar, kira-kira ada 18 buah meja di mana ada dua macam meja yang masing-masing dapat menampung 4 atau 6 orang. Ruangannya pun enak, ber-AC.
Soto Padang, walau ga asing buat orang Minang sendiri, rupanya masih asing di lidah orang Indonesia pada umumnya. Saya pernah nanya beberapa temen saya, ternyata banyak juga di antara mereka yang belom pernah makan soto Padang. Mungkin karena jarang ada yang menjual soto Padang. Alhasil, hidangan ini memang masih jauh lebih ga populer dibandingkan sate Padang yang lebih banyak penjualnya.
Nah, ini baru oke, sotonya panas, dan pas banget buat dimakan pake nasi yang terpisah. Dengan mangkok berukuran kecil khas soto Padang, soto ini berisi daging, bihun, dan perkedel kentang. Ga ada salah satu dari tiga bahan ini aja, sebuah hidangan ga bisa disebut soto Padang. Dagingnya biasanya daging dendeng yang renyah dan berbunyi kriuk-kriuk pas dimakan. Jenis soto dengan daging yang renyah seperti ini yang paling saya demenin. Tapi di soto ini, rupanya ada dua jenis daging, yang kenyal (daging biasa, atau dendeng yang kurang garing?) dan yang renyah kayak dendeng kering. Oiya, dan ga boleh lupa, mesti ada kerupuk merahnya.
Trik supaya satu mangkok yang kecil itu bisa cukup buat sepiring nasi? Yang pasti, setiap suapan hanya boleh diisi oleh satu atau dua potongan daging. Tapi ada masalah lain, karena mangkoknya kecil, kuahnya jadi dikit juga. Dan ternyata kuahnya cepat menjadi kering. Mungkin karena sebagian terisap oleh bihun. Tapi jangan khawatir, kamu bisa kok pesen lagi kuahnya. Nah, kuah ini cukup membantu supaya satu mangkok soto cukup buat dimakan dengan sepiring nasi.
Soto Padang IDR 30K
Nasi Putih IDR 6K
Es Teh Tawar IDR 4K
Soto Padang H. St. Mangkuto
Jalan K.H Ahmad Dahlan No. 22B Jakarta Selatan (Cabang)

Jalan K.H Ahmad Dahlan No. 22B Jakarta Selatan (Cabang)

Thursday, February 26, 2015
Kalap di Hanamasa Istana Plaza (Bandung)
SEKILAS INFO : Kunjungi blog saya yang baru di myeatandtravelstory.wordpress.com yaaa. Di sana, kulinernya diupdate terus...
Yah, pasti udah banyak yang pernah ke Hanamasa. Karena ga banyak tempat yang menawarkan menu all-you-can-eat, apalagi di Bandung, tempat ini emang tempat yang paling oke buat makan sepuasnya. Selain sepuasnya, kita pun bisa masak sendiri. Tentunya ini juga jadi kelebihan tersendiri. Dulu di Bandung ada Hartz Chicken Buffet. tapi saya belom sempet icip-icip ke sana, tempatnya udah keburu tutup.
Di Bandung sebenarnya ada dua cabang Hanamasa. Satu di Dago dan satu lagi di Istana Plaza. Kebanyakan orang pasti bakal dateng ke Hanamasa Dago. Tapi menurut saya, karena terlalu ramai, jadinya ga nyaman. Ga jarang kita mesti menunggu waiting list yang cukup lama. Apalagi di bulan puasa, keadaannya bisa bertambah parah berkali lipat. Jadinya ga nyaman banget makannya. Padahal, di Hanamasa Istana Plaza ini sepiiii banget. Kita ga perlu waiting list segala. Bahkan di bulan puasa pun ga perlu waiting list. Atau biar ga terlalu "manis", waiting list bentar doang deh. Fasilitas dan ragam makanan? Ya sama aja lah!
Seperti yang udah kalian ketahui, Hanamasa menyediakan dua macam menu, yaitu yakiniku buat menu bakar-bakaran dan shabu-shabu untuk menu rebus-rebusan. Perbedaan cukup mencolok. Seengganya, ga ada sayur-sayuran buat menu yakiniku. Buat memudahkan pengunjung, kelompok makanan yakiniku dan shabu-shabu diletakkan terpisah dan dilengkapi dengan papan keterangan. Walau dipisah, kita yang pesan menu shabu-shabu tetep bisa ngambil makanan dari menu yakiniku, no problem. Saya sih kalo ke Hanamasa selalu pesen Yakiniku. Lebih asyik bakar-bakaran dong daripada ngerebus.
Selain makanan yang bisa kita ambil dan kita masak sendiri, di Hanamasa ada juga booth di mana kita bisa memilih makanan. Tapi yang masaknya bukan kita melainkan koki Hanamasa. Dan jangan khawatir, makanannya free juga kok. Pokoknya semua makanan yang terpampang dan bisa dilihat di restoran ini free dan all you can eat. Termasuk minuman yang beraneka ragam. Ada soft drink standar kayak Fanta, Sprite, Pepsi. Ada cappuccino, lemon tea, orange juice, dan Thai tea. Nasi? Nasi juga all you can eat. Tinggal minta mbak-mbaknya aja kalo mau nambah lagi. Tapi saya sih nyaranin makan nasinya dikit-dikit aja. Sayang kan kalo kenyang gara-gara nasi dan bukan gara-gara daging, hehehe...
Menu Harga
Yah, pasti udah banyak yang pernah ke Hanamasa. Karena ga banyak tempat yang menawarkan menu all-you-can-eat, apalagi di Bandung, tempat ini emang tempat yang paling oke buat makan sepuasnya. Selain sepuasnya, kita pun bisa masak sendiri. Tentunya ini juga jadi kelebihan tersendiri. Dulu di Bandung ada Hartz Chicken Buffet. tapi saya belom sempet icip-icip ke sana, tempatnya udah keburu tutup.
Di Bandung sebenarnya ada dua cabang Hanamasa. Satu di Dago dan satu lagi di Istana Plaza. Kebanyakan orang pasti bakal dateng ke Hanamasa Dago. Tapi menurut saya, karena terlalu ramai, jadinya ga nyaman. Ga jarang kita mesti menunggu waiting list yang cukup lama. Apalagi di bulan puasa, keadaannya bisa bertambah parah berkali lipat. Jadinya ga nyaman banget makannya. Padahal, di Hanamasa Istana Plaza ini sepiiii banget. Kita ga perlu waiting list segala. Bahkan di bulan puasa pun ga perlu waiting list. Atau biar ga terlalu "manis", waiting list bentar doang deh. Fasilitas dan ragam makanan? Ya sama aja lah!
Seperti yang udah kalian ketahui, Hanamasa menyediakan dua macam menu, yaitu yakiniku buat menu bakar-bakaran dan shabu-shabu untuk menu rebus-rebusan. Perbedaan cukup mencolok. Seengganya, ga ada sayur-sayuran buat menu yakiniku. Buat memudahkan pengunjung, kelompok makanan yakiniku dan shabu-shabu diletakkan terpisah dan dilengkapi dengan papan keterangan. Walau dipisah, kita yang pesan menu shabu-shabu tetep bisa ngambil makanan dari menu yakiniku, no problem. Saya sih kalo ke Hanamasa selalu pesen Yakiniku. Lebih asyik bakar-bakaran dong daripada ngerebus.
.jpg&container=blogger&gadget=a&rewriteMime=image%2F*)
.jpg)
Menu Harga
Dewasa
Yakiniku IDR 158.5K
Shabu-shabu IDR 158.5K
Anak-anak
Yakiniku IDR 136.5K
Shabu-shabu IDR 136.5K
*Harga Belum Termasuk Pajak Restaurant 10%
Hanamasa Resto
Istana Plaza, Jalan Pasirkaliki No. 121-123, Bandung
Yakiniku IDR 158.5K
Shabu-shabu IDR 158.5K
Anak-anak
Yakiniku IDR 136.5K
Shabu-shabu IDR 136.5K
*Harga Belum Termasuk Pajak Restaurant 10%
Hanamasa Resto
Istana Plaza, Jalan Pasirkaliki No. 121-123, Bandung

Subscribe to:
Posts (Atom)
.jpg&container=blogger&gadget=a&rewriteMime=image%2F*)
.jpg&container=blogger&gadget=a&rewriteMime=image%2F*)
.jpg&container=blogger&gadget=a&rewriteMime=image%2F*)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg&container=blogger&gadget=a&rewriteMime=image%2F*)
.jpg&container=blogger&gadget=a&rewriteMime=image%2F*)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)

.jpg)
.jpg&container=blogger&gadget=a&rewriteMime=image%2F*)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg&container=blogger&gadget=a&rewriteMime=image%2F*)
.jpg&container=blogger&gadget=a&rewriteMime=image%2F*)
.jpg)
.jpg)