Showing posts with label harga standar. Show all posts
Showing posts with label harga standar. Show all posts

Monday, April 20, 2015

Mengunjungi Taman Mayura dan Pura Jagatnatha (Mataram)

SEKILAS INFO : Kunjungi blog saya yang baru di myeatandtravelstory.wordpress.com yaaa. Di sana, kulinernya diupdate terus...


Taman Mayura ini sebenernya merupakan komplek pura, namun karena tempatnya yang luas dan asri, bahkan memiliki kolam yang di tengahnya berdiri sebuah bangunan yang sering dipakai untuk tempat berkumpul, pertemuan, dan menerima tamu kerajaan, ga heran kalo disebut taman. Tarif masuknya 10 ribu rupiah dan merupakan tarif resmi dan bukan bikin-bikinan si penjaga taman, soalnya tarif ini terpampang pada tiket yang ada. Setelah membayar tiket masuk, kita akan diberi sabuk kain kuning yang mesti dipakai selama di area taman. Jangan lupa, walaupun taman, area ini dianggap religius oleh umat beragama Hindu karena terdapat sebuah pura di ujung timur taman. Namun demikian, siapapun boleh berkunjung ke sini apapun agamanya.


Jadi ceritanya, Taman Mayura ini dibangun oleh Raja Anak Agung Ngurah Karangasem sekitar tahun 1744, ketika kerajaan Bali masih berkuasa di Pulau Lombok. Awalnya taman ini bernama Taman Kelepug, yang diambil dari suara "klepug, klepug", yaitu suara aliran air dari mata air yang jatuh ke kolam. Mayura sendiri berarti "burung merak". Nama ini mulai tersemat semenjak burung merak diternakkan dan dipelihara di area taman ini. Tujuannya, untuk membantu mengusir ular-ular yang mulai banyak berkeliaran di sekitar taman dan pura, sehingga masyarakat yang datang dapat berdoa dengan tenang.


Di area taman, ga mungkin kamu ga ngeliat sebuah kolam yang sangat luas. Di tengahnya ada sebuah bangunan yang dihubungkan oleh jalan setapak ke pintu gerbang di tepi kolam. Bangunan ini disebut "Rat Kerte" atau karena letaknya yang berada di tengah badan air sering juga disebut "Gili" yang dalam bahasa Sasak berarti pulau. Sayang, sepertinya pengunjung tidak bisa, atau mesti meminta izin terlebih dahulu jika ingin mengunjungi bangunan tersebut karena pintu menuju jalan setapaknya digembok.


Di komplek pura, kita bisa melihat ada empat pura utama, yaitu Pura Gunung Rinjani, Pura Ngelurah, Pura Padmasana, dan Pura Gedong. Secara keseluruhan, komplek pura disebut Pura Jagatnatha Mayura. Di area ini, suasana religius sangat terasa. Terlihat sekelompok warga yang sepertinya tengah mendalami agama Hindu dengan membaca kitab suci mereka. Satu orang yang sepertinya merupakan "ustadznya" mereka tampak sedang membaca kitab dengan suara keras dalam bahasa yang sangat asing dan tidak kami pahami. Mungkin bahasa Sansekerta? Atau bahasa Bali kuno?


Walau siapapun boleh masuk ke area pura untuk melihat-lihat, pada waktu-waktu tertentu area pura akan ditutup untuk umum. Seperti misalnya pada perayaan Galungan, perayaan Kuningan, serta hari raya umat Hindu lainnya. Kalo kamu ingin mengetahui lebih banyak tentang kompleks pura serta Taman Mayura ini, Anda bisa menanyakannya pada pemangku di Bale Pawedan.


Taman Mayura
Jalan Mayura, Cakranegara, Mataram
Koordinat GPS : -8.586074,116.132159 (copy ke search bar Google Maps)

Baca juga "Holiday is Lombok! (Hari Pertama)"

Thursday, April 16, 2015

Keringetan di Resto Abang Adek (Jakarta)

SEKILAS INFO : Kunjungi blog saya yang baru di myeatandtravelstory.wordpress.com yaaa. Di sana, kulinernya diupdate terus...


Kalo searching di internet, namanya Warung Indomie Abang Adek. Tapi pas dateng ke sini, di spanduk, banner, atau daftar menunya mereka, mereka nulis namanya "Resto Abang Adek". Yowes, saya ngikut aja dengan nama yang mereka bikin sendiri.



Resto Abang Adek ini terletak di daerah Tomang, di daerah belakang Roxy Square dan RS Sumber Waras. Tapi waktu malem itu, karena salah jalan, saya dateng dari arah selatan dari arah Jalan Tomang Raya. Jalan yang saya lalui setelah dari Jalan Tomang Raya relatif gelap dan sepi. Saya bahkan bertanya-tanya dalam hati apakah alamat yang saya peroleh dari Google Maps ini betul. Tapi pas sampe, ternyata memang betul. Tempatnya ramai dan terang pula, banyak motor yang parkir. Pas saya ngelongok ke dalem, amsyong, mejanya penuh semua. Padahal kalo saya perhatiin, di lantai satu ini aja ada 22 meja yang kapasitasnya masing-masing 4 orang, walau ga full setiap meja ada 4 orang. Kalo di lantai 2 saya ga tau deh, karena males buat ngeliat. Yang dateng ga cuma anak muda doang, bahkan ada beberapa keluarga yang dateng ke sini.



Saya baru dapet tempat duduk setelah berdiri menunggu 15 menitan. Pas dapet tempat duduk, menunya udah ada di meja. Ada dua pilihan Indomie, yaitu Indomie goreng spesial, rasa yang paling sering kita makan, dan Indomie goreng cabe ijo. Mie rebusnya ada rasa ayam spesial, ayam bawang, kari ayam, dan soto mie. Lumayan banyak juga rasa yang tersedia. Tapi pas saya tanya, yang Indomie goreng cabe ijonya abis. Saya curiga sebagian yang ada di menu ini cuma formalitas doang. Karena yang banyak dipesen orang tetep aja Indomie goreng yang standar.

Pelengkapnya standar kayak di kebanyakan warung Indomie, ada telur (disingkat inter), kornet (innet), kombinasi telur dan kornet (internet), dan keju. Tingkat kepedasannya ada lima. Karena saya masih ingin lidah saya berfungsi dengan baik setelah pulang dari sini, saya pesen yang "pedas" aja, daripada yang "pedas mampus". Daripada ntar diamputasi gara-gara iritasi ama cabe, bahaya kan, lidah ga bisa ditransplantasi. Belom pernah denger sih.

Selain menu Indomie, mereka juga sebenernya jualan roti bakar, jagung bakar, otak-otak. Dibalik menu Indomie juga masih ada menu nasi, kayak ayam, ikan, tempe tahu, dan sebagainya. Jus-jusan juga ada. Tapi menu nasi dan jus ini sebenernya dibikin ama warung tetangga. And you know lah, menu yang paling banyak dibeli tetep aja si Indomie.

Empat puluh menit setelah pesanan saya diberikan saya baru dapet sepiring Indomie. Beuh. Mereka kelupaan ngebikin pesenan saya. Orang-orang yang baru dateng aja udah dapet duluan. Sengaja saya tunggu 30 menit baru saya panggil mas-mas pelayannya. Ternyata mereka rada ga care sama pengunjung. Yah, mungkin juga karena tempatnya gede, pengunjungnya banyak, dan pelayan yang ada juga kayaknya keteteran deh.


Kayak gini nih penampakan seporsi internet pedes. Cabenya lumayan banyak juga nih. Kornetnya kematengan dan jadi kurang enak. Menurut saya sih enaknya kornet itu setengah mateng aja, biar menyatu ketika diaduk ama mie. Telur dadarnya bentuknya ga enak diliat, acak-acakan. Secara presentasi, masih lebih oke penampakan internet yang suka saya beli di Pulomas.

Pas saya cobain, beuh, pedes banget dah. Ga kebayang yang pedes mampus kayak apa pedesnya. Siap-siap aja sama sebotol Aqua atau teh botol yang dingin banget. Atau kalo kamu adalah tipe yang lebih suka kepedesan sebentar, berarti siapkanlah segelas teh panas. Yang panas ya, bukan yang hangat tanggung. Overall, saya kurang suka Indomie yang dibikin pedes gini. Saya suka sama rasa Indomie goreng, suka banget malah. Tapi kalo pedes kayak gini, rasa Indomienya jadi ketilep dan ga kerasa lagi. Mana kepedesan pula, saya jadi ga bisa menikmati mie yang saya makan. Mendingan beli yang ga pedes atau yang level pedesnya paling rendah.

Indomie Telur Kornet Pedas IDR 15K
Es Teh Manis IDR 4K

Resto Abang Adek
Jalan Mandala Utara No. 8 Jakarta Barat

Wednesday, April 15, 2015

Nyate Padang di Ajo Ramon Pasar Santa (Jakarta)

SEKILAS INFO : Kunjungi blog saya yang baru di myeatandtravelstory.wordpress.com yaaa. Di sana, kulinernya diupdate terus...


Saya dateng ke sini kira-kira hampir jam setengah 6 sore, Ajo Ramon udah dipadati banyak pengunjung. Tapi saya tau, segini belum ada apa-apanya. Lebih malem lagi saya dateng, bisa-bisa saya ga kebagian tempat duduk.





Tenda Ajo Ramon ini gede banget. Ada 5 meja yang berbeda-beda panjangnya, sejajar satu sama lainnya. Kira-kira seluruh meja dan kursi di sini bisa menampung 60 orang! Wow, semua itu di bawah tenda lho. Belum lagi kalo mereka "kepepet", mereka masih punya meja cadangan yang diletakkan di samping tenda, beratapkan taburan bintang langit malam hari.


Saya menghampiri si Uda yang ada di salah satu dari dua gerobak dan memesan seporsi sate. Mukanya Padang banget bo. Mukanya lebar dan garang. Tapi karakteristiknya tetep Minang, bukan Batak. Padanya saya memesan seporsi sate lidah dan usus. Di gerobak yang satu lagi, saya melihat ada stiker Trip Advisor. Wih, gaya betul, udah di-review di Trip Advisor.



Nah, kayak gitu penampakan Sate Padang Ajo Ramon. Kuahnya berwarna coklat. Nah, kalo berdasarkan informasi yang saya baca di internet, kalo kuahnya berwarna coklat berarti satenya berasal dari Padang. Inget kan? Kalo kuning dari Padang Panjang, sementara kalo merah dari Pariaman. Rasanya enak. Satenya agak-agak sedikit gosong terbakar, tapi saya suka. Ketupatnya juga lembut. Tapi seperti biasanya di sate padang, jumlahnya ga banyak. Sate usus ditandai dengan tusuknya yang pipih kayak di beberapa penjual sate kambing. Sementara yang sate lidah tusuknya biasa aja.



Kamu bisa juga minta kerupuk jangek, kerupuk kulit khas Minang, disiram kuah sate padang. Saya melihat ada pengunjung yang memberikan dua bungkus jangek pada si uda untuk disiram bumbu sate. Atau kalo ga mau ribet, olesin sendiri aja kayak saya. Lagipula, kuahnya lumayan banyak, cukup buat dimakan sama kerupuk jangek.

Sate Padang Ajo Ramon IDR 25K

Sate Padang Ajo Ramon
Halaman Parkir Pasar Santa, Jalan Cipaku No. 1, Jakarta Selatan

Yammie Hotplate, Selalu di Hati, eh, Dibeli... (Jakarta)

SEKILAS INFO : Kunjungi blog saya yang baru di myeatandtravelstory.wordpress.com yaaa. Di sana, kulinernya diupdate terus...


Yeeeesss, setiap nemuin Yammie Hotplate di manapun, saya hampir selalu beli! Dan menu yang saya beli selalu si Bebek Panggang. Harganya setelah pajak 32 ribu rupiah. Minumnya Nestea Lemon Tea yang setelah pajak jadi 8 ribu. So, totalnya jadi 40 rebu.

Biasanya si Yammie Hotplate ini ada di food court mal. Terakhir saya makan di food court Kalibata Square. Tapi kalo di Bandung, saya biasa makan di food court Istana Plaza. Sayang sekali tampaknya mereka ga punya website sehingga saya ga bisa memastikan mereka ada di kota mana aja. Yang pasti, di Mal Arta Gading Jakarta juga ada. 



Nah, kayak gini nih penampilannya. Hotplate-nya kayaknya kurang panas, karena biasanya si kuah berwarna oranye itu akan berbuih-buih menggelegak dan lama-lama akan mengering karena sebagian besar airnya menguap. Tapi kali ini, hingga saya beres makan, kuah oranyenya masih banyak. Si bebek panggang juga kok rasanya dikit ya, padahal biasanya juga udah dikit sih, cuma potong. Pengennya 10 potong gitu =P.

Dan kalo dari segi rasa sih yaaah, sebenernya ga amat sangat enak. Cukup lah. Tapi saya seneng aja ama Yammie Hotplate : karena saya seneng mie, saya seneng bebek, dan saya seneng tampilannya yang "bersemangat" di atas hotplate panas. Dimakan pake sumpit, ditiup-tiup dulu baru dilahap. Buat saya, seporsi jadi terasa kurang. Tapi beli dua kemahalan, hahaha...

Yammie Hotplate
Food Court Kalibata Square, Jalan Kalibata Raya No. 1, Jakarta Selatan

Menu Lengkap







Friday, April 3, 2015

The Best Bebek Telur Asin di ATL Hayam Wuruk (Jakarta)

SEKILAS INFO : Kunjungi blog saya yang baru di myeatandtravelstory.wordpress.com yaaa. Di sana, kulinernya diupdate terus...


Ini ketiga kalinya saya ke sini. Pertama kali dateng ke sini pas traktiran temen-temen di kantor. Lokasinya lumayan jauh juga dari kantor, yaitu di daerah Kelapa Gading Permai. Kali kedua saya makan di Hayam Wuruk, saya dateng ke cabangnya yang ada di  Dan ini yang 



Kalo dateng pas lagi jam makan siang, dijamin deh bakal kesulitan untuk mencari parkir. Soalnya rasa-rasanya Kelapa Gading ini jadi destinasi makan orang-orang di sekitaran Kelapa Gading. Rumah makannya banyak banget.

Ayam Tulang Lunak Hayam Wuruk di Kelapa Gading ini bertempat di komplek toko bertingkat (ga pake rumah, jadinya bukan ruko). Ruangannya cukup luas, bisa menampung hingga lebih kurang 40 orang. Sejatinya memiliki dua lantai namun lantai yang di atas ga dipake sama sekali dan dibiarkan kosong begitu saja, hanya jadi tempat penyimpanan barang yang jumlahnya juga ga banyak. Saya tau karena waktu itu saya dan temen-temen ikut numpang sholat di sini.

Tiga kali saya dateng ke Hayam Wuruk, dan tiga-tiganya saya selalu pesen bebek telur asin. Sekalipun namanya "Tulang Lunak Hayam Wuruk", saya belom pernah sekalipun nyobain ayamnya, hehehe... Ga perlu ditanya kenapa saya selalu mesen bebek telur asin, rasanya enak banget sih! Telur asinnya bikin bebeknya jadi berasa gurih banget. Apalagi bebeknya juga presto. Dagingnya renyah, tulangnya juga bisa dimakan. Nagih banget lah si bebek telur asin ini. Selain bebek, saya juga mesen tempe dan cah kangkung buat melengkapi makan siang. Mereka juga menyediakan nasi uduk sehingga so pasti saya mesen nasi uduk.

Tapi di kedatangan saya yang kedua di Hayam Wuruk Kelapa Gading ini, ada pengalaman yang kurang mengenakkan. Makanannya disajiinnya lamaaaa banget. Kita emang dateng rame-rame sih. Tapi itu kan mestinya ga bisa dijadiin alasan, apalagi udah jam makan siang, kita udah laper, mana kita juga mesti cepet-cepet balik ke kantor. Alhasil, temen-temen semua pada ngeluh karena kelamaan nunggu. Dan walaupun masakannya enak-enak sih, tempat ini jadi ga recommended karena penyajiannya yang kelamaan. Kalo kamu penasaran sama rasanya yg enak tapi ga keberatan menunggu agak lama, boleh lah dateng ke sini.



Ayam Tulang Lunak Hayam Wuruk
http://www.atl-hw.com/
Cabang : Jalan Boulevard Raya QA-1 No.14 -15, Kelapa Gading Permai, Jakarta Utara

Makan Nasi Kapau di Senen (Jakarta)

SEKILAS INFO : Kunjungi blog saya yang baru di myeatandtravelstory.wordpress.com yaaa. Di sana, kulinernya diupdate terus...


Pengen makan nasi kapau? Nah, Senen adalah salah satu tempat di Jakarta (saya ga tau tempat lainnya di mana deng) di mana para penjual nasi kapau berkumpul. Letaknya bukan di kompleks Pasar Senen, melainkan di Jalan Kramat Raya, di samping turunan jalan layangnya. Di sini berjejer beberapa penjual nasi kapau yang pada malam hari cukup ramai dikunjungi sehingga terkadang membuat macet jalanan yang kebetulan menyempit karena adanya jalan layang itu.




Ada beberapa penjual nasi kapau di sini. Yang terkenal dan lebih sering diliput media yaitu Uni Upik. Waktu awal-awal saya ke sini, saya selalu dateng ke sini tanpa pernah nyoba-nyobain penjual nasi kapau yang lain. Tapi setelah saya dikasih tau paman saya bahwa nasi kapau Sabana Asli bumbunya lebih enak, akhirnya saya coba deh. Dan ternyata, memang lebih enak dari Uni Upik. Ga terlalu jauh sih bedanya.

Yang unik dari penjual nasi kapau di sini adalah, kuliner Padang-nya cukup lengkap. Bahkan beberapa hidangan yang jarang ada di restorang Padang pun ada di sini. Sebut aja, soto Padang, sop daging (tanpa santan), itik rendang, itik cabe hijau. Bahkan, terkadang beberapa penjaja nasi kapau menjual bubur kampiun dan es tebak, seperti yang ada di Sabana Asli ini. Selain itu, ada pula penganan-penganan ringan khas minang yang juga akan jarang ditemui di tempat lain, seperti lemang (ketan yang dimasak di dalam tabung bambu) tapai, lemang baluo (ketan yang diberi gula aren), ketupat ketan, kue talam srikaya, kue lupis, keripik sanjai, dan masih banyak lagi.


Konsep jualannya mirip kayak warteg sih, makanan terpajang di depan mata, bedanya ga dikasih kaca aja. Masakan Padang yang dijajakan rata-rata sudah siap saji. Maklum, makanan Padang kan rata-rata bersantan sehingga ga mungkin bikin di tempat. Prosesnya bakalan lama banget. Dan saran saya buat kamu-kamu yang dateng dengan dompet tipis, jangan duduk di depan jejeran makanan ini. Bisa-bisa nanti pas udah beres makan kamu jadi ngeliat makanan-makanan lain yang menggiurkan ini dan malah pengen nambah lagi, hehehe...

Kali ini, karena saya lagi pengen makan tunjang, atau yang oleh orang non Minang dikenal dengan nama kikil, saya pesen satu. Biar lebih nampol, tambah telur dadar juga deh. Telur dadarnya tebel dan rada tutung (bahasa Sunda, artinya hangus). Tapi, yang rada tutung begitu malah saya suka. Selain itu, masih ada sayur singkong dan sayur nangka sebagai lalapan standar nasi Padang. Sambelnya dikasih sambel ijo, tapi karena saya suka sambel merah, jadi saya minta juga sambel merah yang biasa dikasih buat dendeng. Piring saya jadi warna-warni deh.





Ayam Goreng IDR 13K
Ayam Pop IDR 13K
Ayam Bakar IDR 13K
Tunjang IDR 18K
Itik Cabe Ijo IDR 35K
Telur Dadar IDR 7K
Sop Daging IDR 20K
Emping IDR 3K
Jangek (Kerupuk Kulit) IDR 3K
Teh Telor IDR 15K

Sabana Asli Nasi Kapau Hj. Zaidar
Jalan Kramat Raya, Senen, Jakarta Pusat

Monday, March 30, 2015

Makan Mie Karet di Cicendo (Bandung)

SEKILAS INFO : Kunjungi blog saya yang baru di myeatandtravelstory.wordpress.com yaaa. Di sana, kulinernya diupdate terus...


Mie Karet Cicendo ini letaknya agak tersembunyi. Saya dikasih tau tempat ini ama adik saya, Ferdi. Letaknya di seberang RS Mata Cicendo tapi rumahnya agak kehalang sama bangunan rumah makan Padang yang ada di depannya. Pintu masuknya agak sempit, tapi ketika masuk di dalam jadi agak meluas. Palingan cuma bisa parkir dua atau tiga buah mobil di dalem. Kalo motor sih bisa agak banyak. Bangunannya sendiri terbilang bangunan jadul. Arsitekturnya khas, ditambah lagi tegelnya pun model jadul.




Di dalam, ada 10 meja yang diposisikan dengan jarak cukup berjauhan. Setiap meja bisa menampung 4 orang pengunjung. Waktu saya ama Ferdi dan mamah saya dateng, walaupun ada empat orang pengunjung namun tetap saja jadi tampak sepi jika dibandingkan dengan ruangannya yang cukup besar. Dua orang pengunjung tampaknya masih menunggu pesenan mereka dateng. Menu terpampang jelas di dua papan tulis hitam yang ada, jadi jangan nungguin pramusajinya ngasih daftar menu, karena mereka emang ga punya. Mamah saya katanya ga akan makan, mau nyicip doang. Oke, kita memutuskan untuk membeli 5 buah baso goreng dan dua porsi mie ayam pangsit.


Baso gorengnya dateng duluan. Wew, ternyata ukurannya kecil-kecil, rada kayak peyot dan garing. Pas dicobain, ternyata rasanya enak. Kerasa ikan banget. Tapi sayang, baso gorengnya ga didampingi dengan saus apapun. Jadi agak bingung makannya gimana. Mau dimakan gitu aja tapi rasanya sayang juga. Tapi, mau gimana lagi? Ya udah deh, jadinya dimakan gitu aja.

Lumayan lama juga kita nungguin pesenan dateng. Kita berusaha berbaik sangka bahwa mienya bener-bener dibuat dari adonan, kayak mie tarik, sehingga untuk merebusnya butuh waktu yang agak lama. Dan setelah nungguin 20 menit, akhirnya pesenan utama kita dateng juga. Semangkok mie dan semangkok lagi pangsit beserta kuahnya. Kuah pangsitnya ga dikasih daun bawang, jadi kamu jangan lupa buat nambahin sendiri daun bawangnya dari wadah yang udah tersedia di meja. Hmmm, kuahnya gurih banget, sepertinya memang diberi banyak minyak sayur. Pangsitnya juga lembut dan ada isi ayamnya juga.



Mienya berukuran lebih besar dari mie pada umumnya. Mungkin salah satu yang terbesar yang pernah saya makan. Selain itu, teksturnya keriting-keriting. Pas saya makan, rasanya liat banget. Tapi saya bisa bilang bahwa memang ini tipe mie-nya yang liat, bukan karena kurang mateng. Dan rasanya lucu juga ya makan mie dengan kombinasi kayak gini : besar, keriting, dan liat. Kamu mesti coba deh. Rasanya juga ga sama ama mie tarik. Unik.

Mie Ayam Pangsit IDR 30K
Baso Goreng (1 buah) IDR 6K

Mie Karet Cicendo
Jalan Cicendo No. 27 Bandung

Sunday, March 29, 2015

Makan Pempek dan Es Kacang Merah di Pempek Rama (Bandung)

SEKILAS INFO : Kunjungi blog saya yang baru di myeatandtravelstory.wordpress.com yaaa. Di sana, kulinernya diupdate terus...


Pempek Rama ini, seperti yang bisa kita liat dari namanya, terletak di Jalan Rama. Udah lama Jalan Rama terkenal dengan penganan pempeknya. Selain Pempek Rama, ada Pempek Raden yang telah membuka banyak cabang lain di Bandung dan bahkan di kota lain, serta Pempek Anugrah yang juga terkenal. Mamah saya, yang lahir di kota Palembang, lebih memilih membeli pempek di sini karena rasa cukanya lebih enak. Saya.... percaya dan ngikut aja deh, hehehe...



Jalan Rama tidak lebar, sehingga kalo kamu datang pake mobil di jam makan siang, dijamin kamu bakal kesulitan mencari tempat parkir. Waktu kemaren saya ke sini, mobil mesti muterin jalan sampe dua kali buat nyari tempat parkir, sebelum akhirnya kita mutusin buat berbelok di suatu jalan masuk perumahan dan parkir di sana. Yah, untungnya ga terlalu jauh dari lokasi penjual pempek.


Pada saat itu, emang pas jam makan siang, ruangannya cukup ramai. Kapasitas ruangannya sendiri kira-kira bisa menampung lebih dari 40 orang. Sebelum duduk, kita sebaiknya memilih dulu pempek yang ingin dibeli, yang bisa diliat dengan jelas melalui display kaca. Macam pempek yang tersedia pun cukup banyak. Mulai dari pempek lenjer, pempek kapal selam, pempek adaan, pempek pistel (atau pempek kates, berisi pepaya muda) hingga pempek dan lenggang panggang. Namun untuk kedua jenis pempek yang terakhir ini, tidak selalu tersedia. Pemilik Pempek Rama mengakui bahwa mereka kekurangan pekerja untuk menyediakan jenis pempek yang dipanggang. Alasan yang menurut saya tidak masuk akal. So, kalo kamu ingin membeli pempek panggang, sebaiknya nelepon dulu apakah mereka saat itu sedang sedia atau tidak.



Yak, seperti yang bisa kamu liat di atas, pempek favorit saya adalah pempek lenggang dan pempek adaan yang gurih. Kalo yang udah ada kuahnya itu pempek pesenan adik saya. Pempek lenggang adalah pempek lenjer yang dipotong-potong lalu digoreng dicampur dengan telur. Sedangkan pempek adaan adalah jenis pempek yang dalam penggunaannya menggunakan campuran santan, sehingga lebih gurih daripada pempek biasa lainnya.


Pempeknya dateng tanpa dikasih kuah cuka karena kuah cukanya tersedia di meja. Bisa kamu liat bahwa, sepertinya ada dua jenis cuka. Yang ada di dalem wadah yang diberi cat merah sepertinya cuka yang pedas. Saya sejujurnya ga nyoba cuka yang di dalam wadah tanpa cat jadi ini pure guess sih. Saya langsung ngambil cuka di wadah dengan cat merah dan cukanya sih biasa aja, ga berasa pedes juga. Yang bikin bingung juga, sebenernya ada dua wadah sambel di meja. So, kalo cuka di wadah bercat merah udah pedes, ngapain lagi ada sambel? Well, mungkin tebakan saya salah. Sambelnya sendiri, seperti saya bilang, ada dua macem. Yang warna hijau sebenernya khusus buat pempek panggang. Sayang juga pempek panggang lagi ga ada. Kalo ada, pasti saya pesen juga.




Nah, selain pempek, Palembang juga terkenal dengan es kacang merahnya. Bahkan di warung yang menjual pempek, yang kecil-kecilan atau abal-abal, biasanya ga jual es kacang merah. Baru di tempat yang agak gede biasanya sedia. Dan setiap ada yang jual es kacang merah, saya biasanya akan beli soalnya es kacang merah itu favorit saya banget. Ga tau kenapa saya suka sama rasa kacang merah. Pas awal disajikan, kacang merahnya ga keliatan, karena ketumpuk-tumpuk sama es serut. Baru setelah kita aduk-aduk dan esnya agak mencair, keliatan lah es kacang merahnya. Warna putihnya sendiri berasal dari kuah santan.

Pempek Rama
Jalan Rama No. 28 Bandung

Saturday, March 28, 2015

Bebek Kaleyo Perdana di Bandung! (Bandung)

SEKILAS INFO : Kunjungi blog saya yang baru di myeatandtravelstory.wordpress.com yaaa. Di sana, kulinernya diupdate terus...


Yap, bebek yang udah lama melintang di Jakarta ini akhirnya buka cabang juga di Bandung. Pengusaha bebek asal Bandung kedapatan saingan baru. Bebek Kaleyo udah punya nama banget di Jakarta. Semua cabangnya di Jakarta, Tangerang, dan Bekasi, ramai pengunjung. Dan, saya yang sebenernya udah sering ke Bebek Kaleyo di Jakarta, mengakui bahwa rasanya emang enak.



Bebek Kaleyo di Bandung menempati lokasi yang tadinya tempat kuliner juga, Bali Heaven. Ga tau juga ya, kayaknya Bali Heaven ini bangkrut atau gimana. Yang pasti, lokasi yang cukup besar ini sekarang jadi base Bebek Kaleyo yang pertama di Bandung. Parkirnya luas lho padahal, tapi pas saya dateng ke sini, saya ga kebagian parkir. Saya jadi parkir di luar, di depan halte angkot yang ada di samping pintu masuk parkir.

Area Bebek Kaleyo sangat luas lho. Saya kira tempat ini bisa menampung hingga setidaknya 150 orang. Ruangannya sangat terbuka, ala pendopo. Dan kalo kamu ga tahan hawa Bandung yang dingin, siap-siap aja pake jaket. Di malam yang dingin dengan banyak angin kondisinya kayaknya bakal lebih parah.



Berbeda dengan Bebek Kaleyo di Jakarta, atau setidaknya di beberapa cabangnya yang pernah saya datangi, Bebek Kaleyo di Bandung ini sistemnya berbeda, kita mesti ngantri untuk memesan apa yang kita mau makan dan minum. Kayak prasmanan, tapi ngga sama juga. Soalnya kita tetep aja ga ngambil makanannya sendiri. Kita bawa nampan, kayak di kantin, bilang apa yang kita mau ke pramusajinya, nanti mereka yang ngambilin buat kita. Terus kita tinggal taro makanannya di nampan kita. Nanti di akhir kita akan menghadapi penjaga kasir yang akan menghitung semua pesanan kita. Bayar deh!


Sistem kayak gini menguntungkan sih buat mereka. Mereka bisa menekan jumlah pelayan yang mesti mondar-mandir membawa makanan di area yang sangat luas. Bayangin sendiri mesti ada berapa belas atau puluh pramusaji yang dibutuhin buat melayani 150 orang. Terus, jumlah buku menu yang mereka punya ga perlu banyak-banyak, cukup buat yang dibaca oleh para pengunjung yang mengantri. Kekurangannya yang cukup kentara ada di sisi pengunjung, pengunjung mesti mengantre cukup lama untuk bisa mulai memesan. Saya kayaknya ngantri sampe 20 menit lebih. Ini kan sama aja kayak nungguin pesanan di meja.

Hal lain yang berbeda adalah harga bebeknya ga dua harga kayak di Jakarta. Di Jakarta, harga bebeknya akan berubah-ubah tergantung musim. Di saat musim populasi bebek cukup banyak, harganya akan lebih murah daripada di musim saat populasi bebek lebih sedikit. Sementara di sini, bebeknya tampaknya satu harga. Atau mungkin bisa jadi saat harga bebek berubah, mereka tinggal ganti buku menunya. Inget kan, buku menu mereka ga banyak, jadinya ga sulit buat berganti buku menu.



Seperti biasa, saya beli bebek muda. Soalnya dagingnya relatif lebih lembut daripada bebek yang biasa. Lalu, porsinya juga sedikit lebih banyak karena kita dapet setengah ekor bebek. Tapi jangan khawatir, karena bebek muda ukurannya ga gede, setengah ekor ini ukurannya ga gede-gede amat. Malah yang saya kebetulan dapet cenderung kecil. Rasanya gimana? Enak, ga ada bedanya dengan yang saya beli di Jakarta. Selain itu saya juga beli tumis daun pepaya (ga ada fotonya) dan tumis jamur. Tumis jamurnya enak, asin, gurih. Tumis daun pepayanya juga enak, ga pahit, gurih asin.

Bebek Kaleyo (Cabang Pasteur, Bandung)
Jalan Pasir Kaliki No. 185-189 (Perempatan Paskal - Pasteur), Bandung

Friday, March 27, 2015

Nyate Padang di Ajo Manih Rawamangun (Jakarta)

SEKILAS INFO : Kunjungi blog saya yang baru di myeatandtravelstory.wordpress.com yaaa. Di sana, kulinernya diupdate terus...


Saya, yang walaupun orang Minang, sebenernya ga terlalu suka sate Padang. Saya lebih milih sate Madura deh daripada sate Padang. Tapi ternyata Sate Padang Ajo Manih ini enak juga lho satenya.


Lokasinya di Jalan Balai Pustaka Timur, Rawamangun. Kalo dateng dari arah Jalan Pemuda, tendanya terletak sekitar seratus meter sebelum Tip Top Rawamangun yang terkenal itu. Mereka baru buka dari sore hari menjelang tengah malam, karena mereka menggelar tendanya di atas trotoar. Selain mereka, di kiri kanannya masih banyak pedagang lain yang juga baru mulai menggelar tendanya sore hari.


Kalo kamu dateng pake mobil, dijamin akan kesulitan mencari tempat parkir. Apalagi badan jalannya sendiri cukup sempit. Kapasitas tendanya tidak terlalu besar, mengingat badan trotoar yang tersedia pun sempit. Akibatnya, tenda mereka cukup memakan badan jalan yang beraspal. Dengan semua kombinasi tersebut, mereka masih mampu membangun tenda yang berkapasitas tidak kurang dari 40 kursi. Namun pada praktiknya, lebih sempit karena letaknya sangat bedempetan, bahkan kalo punggung-punggungan aja bisa saling nyentuh.


Sate Padang Ajo Manih berbumbu kuning. Jika kamu menyadari, ada beberapa variasi warna bumbu sate Padang. Yang berwarna kuning karena dominasi warna kunyit berasal dari Padang Panjang, yang berwarna merah karena didominasi cabai berasal dari Pariaman, sedangkan yang berwarna kecoklatan berasal dari Padang kota. Nah, berarti Sate Padang Ajo Manih ini merupakan sate khas Padang Panjang. Ada tiga pilihan sate yang bisa dipilih, sate daging, sate usus, atau sate lidah. Karena saya tipe penyuka jeroan yang lembut-lembut, saya minta seporsi sate berisi sate lidah dan usus saja. Minuman yang tersedia cuma Aqua botol dan Teh Botol.


Ini dia penampakannya. Disajikan dengan khas beralaskan daun pisang. Lengkap dengan taburan bawang goreng kesukaan saya yang cukup banyak di atasnya. Seporsi ini, seperti yang bisa kamu liat, berisi sepuluh tusuk sate. Dan pas saya liat, potongan ketupatnya ga terlalu banyak, kayaknya cuma setengah ketupat doang. Pas deh buat makan terakhir di malam hari karena ga terlalu ngenyangin perut. Pas saya makan, mmmmh, lidah dan ususnya lembuuut banget. Demen banget deh. Bumbunya juga enak. Walaupun warnanya ga merah, ga menjamin sate Padangnya ga berasa pedes karena setelah beberapa lama saya mulai merasa sedikit kepedesan. Tapi justru enak, karena kalo ga pedes mah ga nampol.

Sate Padang (kombinasi apapun) IDR 23K

Sate Padang Ajo Manih
Jalan Balai Pustaka Timur, Jakarta Timur

Thursday, March 26, 2015

Soto Mencos, Soto Favorit Saya di Jakarta (Jakarta)

SEKILAS INFO : Kunjungi blog saya yang baru di myeatandtravelstory.wordpress.com yaaa. Di sana, kulinernya diupdate terus...


Yes I know, you might not agree with me. Tapi buat saya yang suka banget ama kikil, Soto Mencos tuh uenak buangeeet! Apalagi kuahnya pake santan. Widiiih... Sumber penyakit banget ga sih tuh sebenernya, hehehe. Ya, asal jangan sering-sering aja. Jangan lupa olahraga juga.


Ini dia "dapur" kecil di balik Soto Mencos. Onggokan-onggokan kaki sapi alias kikil terpajang di lemari kaca yang dapat diliat oleh pengunjung. Sebenernya, selain kikil dia pun menyediakan daging. Hanya saja jumlahnya ga terlalu banyak. Misalnya pas tadi saya dateng, dagingnya udah abis. Tapi buat saya sih ya ga masalah. Saya ga pernah beli soto Mencos pake daging. Selalu hanya berisi kikil. Sejujurnya malah saya baru tau akhir-akhir ini bahwa soto Mencos juga sedia daging. So kalo kamu ga suka kikil tapi pengen nyobain soto Mencos, sebaiknya datanglah agak awal sebelum jam makan siang supaya dijamin belom abis. Oiya, selain itu, mereka juga sedia sumsum lho. Tapi lagi-lagi ini yang ini juga persediaan terbatas. Untuk memperoleh yang satu ini, malahan saya menyarankan kamu agar datang lebih pagi lagi, sebelum jam 10 atau 11 misalnya supaya ga keabisan.


Kalo kamu pernah makan soto tangkar, penampakannya mirip banget sama soto tangkar. Warnanya yang kemerahan ini, kalo kamu inget warna kuah lontong sayur, diakibatkan oleh adanya santan. So, ga sama sih ya kayak soto Betawi yang umumnya pake susu dan berwarna putih kekuningan.


Ini dia kikilnya. Kikilnya lembut-lembut banget. Itu yang bikin saya seneng makan di soto Mencos ini. Selain itu, isinya ada potongan tomat, daun bawang, dan serpihan kerupuk emping kayak di soto Betawi, tapi di soto Mencos ada tambahan kerupuk merah lagi, yang warnanya cukup mendominasi. Kuahnya berasa agak asem-asem, kemungkinan karena adanya tomat ini.

Kalo kamu suka dengan acar, di meja tersedia acar timun dan wortel kayak di tukang nasi goreng. Kamu suka pedes, tentunya ada sambel. Dan jangan lupa buat yang ga bisa makan tanpa ditemani bunyi renyah kerupuk, ada kerupuk putih (kerupuk aci) juga di dalem kalengnya yang khas. Terkadang juga saya pernah liat ada emping yang ukurannya agak gede, tapi rupanya tadi sedang habis.


Soto Kikil IDR 26K
Nasi Putih IDR 4K

Soto Mencos Bpk. H. Sarnadi
Jalan Percetakan Negara No. 2C Jakarta Pusat